Pentingnya Permainan Tradisional Dalam Pembelajaran Siswa

Perlu dipahami bersama jika aktivitas bermain pada zaman dahulu merupakan suatu sebuah lambang dari pengetahuan yang berkelanjutan dan mempunyai beranekaragam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan siswa tetap merupakan permainan siswa. Melalui hal itu pembelajaran tetap menyenangkan dan menggembirakan siswa karena tujuannya sebagai media permainan. Dalam hal ini, suatu permainan yang bisa menumbuhkan dan mengembangkan aspek-aspek psikologis siswa dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.

Belajar dengan sebuah permainan ini dipakai untuk mencakup jangkauan kegiatan dan prilaku yang luas serta mungkin bertindak sebagai ragam tujuan yang sesuai dengan usia siswa. Oleh karena itu, bahwa permainan tradisional disini merupakan permainan siswa-siswa dari bahan sederhana sesuai aspek budaya dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan ini sangat populer sebagai permainan rakyat yang ramah lingkungan yang merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial. Dengan demikian bermain suatu kebutuhan bagi siswa.

Kegiatan belajar dengan sebuah permainan yang tradisional ini merupakan salah satu wujud yang berupa permainan siswa-siswa, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun serta banyak mempunyai variasi. Sifat atau cirri dari permainan tradisional siswa sudah tua usianya, tidak diketahui asal-usulnya, siapa penciptanya dan darimana asalnya. Umumnya tersebar dari orang-orang dan biasanya mengalami perubahan nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Apabila diperhatikan dengan baik, maka kegiatan ini tidak lain merupakan kegiatan yang diatur oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pewarisan dari generasi terdahulu yang dilakukan manusia (siswa-siswa) dengan tujuan mendapat kegembiraan.

Peran Permainan Tradisional

Untuk sebuah pendidikan yang bisa mencapai tujuan, maka peran penting dalam permainan tradisional, harus kita kembangkan demi ketahanan budaya bangsa, karena kita menyadari bahwa kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur untuk negara Indonesia ini, untuk diketahui dan dihayati tata cara kehidupannya sejak dahulu. Belajar dengan menerapkan permainan zaman dahulu ini harus memperoleh perhatian tersendiri serta memperoleh prioritas yang utama untuk dilindungi, dibina, dikembangkan, diberdayakan dan selanjutnya diwariskan. Belajar dengan menerapkan sebuah permainan memang baik dilakukan agar kegiatan ini dapat memiliki ketahanan dalam menghadapi unsur budaya lain di luar kebudayaannya.

Berbagai permainan yang bisa dimasukkan dalam pendidikan

1.      Permainan Tradisional Congklak

Ini jenis permainan tradisonal yang masih banyak dimainkan. Dalam hal ini, perlengkapan atau peralatan yang dipakai dalam melakukan permainan “dakon” ini masih banyak dijual di pasaran. Konon Ibu Bapak guru, ini merupakan salah satu permainan tertua di dunia. Permainannya, bukan alatnya. Apabila benar kita harus berbangga telah mewarisi salah satu permainan yang legendaris. Cara bermainnya merupakan dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu-persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan.

Dalam permainan ini adalah apabila biji yang terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka biji-bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Apabila biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Akhir dari permainan ini adalah jika sebuah biji yang terdapat pada lubang yang kecil telah habis dikumpulkan.

Pemenangnya merupakan yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian kelubang induk miliknya. Permainan ini melatih strategi, ketelitian, dan kesabaran. Kemudian, pelajaran apa yang cocok diajarkan memakai media congklak? Ada banyak sebenarnya. Terutama pada bidang studi matematika. Keseluruhan pelajaran dari pada ranah “bilangan” bisa diajarkan memakai media ini.

2.      Permainan Tradisional Engklek

Walupun namanya tidak sama, cara memainkannya sama, yakni pemain meloncati bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan menggunakan satu kaki. Pada ujung petak dibuat gundukan seperti gunung. Dalam permainan ini, seorang pemain diharuskan meloncat dengan menggunakan satu kaki dari petak satu ke petak berikutnya. Ketika melakukan loncatan, pemain tersebut memegang gaco untuk dilemparkan ke masing-masing petak dan kemudian pemain melakukan lompatan ke dalam petak-petak tersebut. Jika sudah melakukan lompatan ke satu petak pemain mengambil gaco tersebut kemudian dilemparkan lagi ke petak selanjutnya. Gaco yang dilempar tidak boleh melebihi batas petak, apabila melewati maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain lainnya.

Seorang pemain yang sudah menyelesaikan keseluruhan engklek terlebih dulu dinyatakan sebagai pemenang. Permainan ini dapat digunakan dalam semua materi ajar! Kenapa? Sebab para pemain memakainya sebagai salah satu alat bantu mengingat dan menghafal konsep. Untuk melakukannya, maka pemain dapat meletakkan kartu soal pada masing-masing petak, lalu setiap siswa yang masuk ke petak harus menjawab soal yang ada pada petak itu. Jadi, apabila dalam permainan engklek aslinya pemain yang melempar gaco keluar batas petak dinyatakan gugur, dalam pembelajaran ini pemain yang salah menjawab pertanyaanlah yang gugur.

3.      Permainan Tradisional Petak Umpet

Rasanya sudah tidak harus dituliskan aturan dan tata cara permainan yang satu ini. Sudah sangat familiar. Permainan murah meriah yang bisa menumbuhkan rasa kesetiakawanan. Modalnya hanya satu: punya teman. Akan tetapi, jika permainan ini diterapkan ke dalam pembelajaran, agak sulit memang meraba materi apa yang sekiranya pas. Maksudnya adalah diperlukan suatu kecermatan dan ketelitian mencari poin-poin penting dari permainan ini. Diantara beberapa poin itu merupakan:

  • Di dalam permainan ini ada hitungannya, yakni dilakukan oleh siswa yang bertindak sebagai “Kucing”. Jadi, dalam hal ini seorang pendidik dapat meminta peserta didiknya untuk menghitung menggunakan bahasa asing yang dipelajari di kelasnya (untuk kelas bawah).
  • Si “Kucing” harus menyebutkan nama saat menemukan teman yang bersembunyi. Satu demi satu sampai semuanya ketemu. Tentu ini mudah karena ia sudah hafal dengan nama teman-temannya. Maka dari itu, seorang pendidik dapat merubah nama siswa-siswa yang bersembunyi dengan istilah-istilah dalam materi. Apabila sedang mempelajari organ pernafasan, guru bisa mengganti nama siswa dengan trakhea, bronkus, alveolus, dan sebagainya. Atau apabila mempelajari materi zaman pergerakan nasional, guru bisa menggantinya dengan nama tokoh-tokoh pergerakan nasional.

4.      Permainan Tradisional Gobak Sodor

Supaya bisa melakukan permainan ini, maka pemain harus ada dua kelompok, satu kelompok sebagai tim laku dan satu kelompok sebagai tim jaga. Maksud dari bermain ini merupakan kelompok jaga yang berdiri tepat di garis depan petak harus menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih hasil menang maka semua kelompok harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Pembelajaran PKn materi kerjasama sangat tepat apabila dilakukan dengan permainan ini. Para peserta didik bisa melakukan langsung bagaimana contoh bekerjasama yang benar. Seorang guru harus memberi waktu kepada peserta didiknya untuk melakukan berdiskusi menentukan formasi timnya, menunjuk ketua kelompok, dan mengatur strateginya. Biasanya ketua kelompok akan bertindak sebagai selodor. Melalui hal ini, maka para peerta didik dapat terlatih bekerja sama dalam memecahkan masalah dan bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *