Mengajar dengan Kegiatan bermain Tradisional yang Efektif

Harus dipahami bahwa setiap siswa bisa berkembang dalam hidupnya sebagian besar dipengarui oleh kegiatan bermain. Sampai-sampai, banyak orang yang tergila-gila dengan kegiatan bermain. Lihat saja, setiap pertandingan kegiatan bermain sepak bola, voli, balap karung, atau kegiatan bermain apa saja selalu banyak yang menonton. Hal itu membuktikan kalau kegiatan bermain memang digemari oleh banyak orang. Dalam hal ini pastinya, akan bisa memberikan efek yang luar biasa bagi perkembangan kejiwaan, kecerdasan, keterampilan, dan kesantunan siswa, apabila pendidik mengajar di kelas melalui kegiatan bermain.

Dalam kegiatan bermain, tidak hanya inti pelajaran saja yang dikembangkan, aspek kesantunan, kompetisi, kecepatan, dan keterampilan dapat diraih sekaligus. Pembelajaran melalui bermain akan membantu siswa mengurangi stres, dan mengembangkan rasa humornya. Bagi pendidik, kegiatan bermain merupakan kendaraan untuk belajar bagaimana belajar (learning how to learn) untuk kepentingan siswa. Lewat kegiatan bermain, siswa bertanya, meneliti lingkungan, belajar mengambil keputusan, berlatih peran sosial, dan secara umum memperkuat seluruh aspek kehidupan siswa sehingga membuat siswa menyadari kemampuan dan kelebihannya.

Pendidik harus teramat paham bahwa kegiatan bermain merupakan proses dinamis yang tidak menghambat siswa dalam proses belajar, sebaliknya justru menunjang proses belajarnya. Andaikata ada pendidik yang menolak terhadap aktivitas bermain siswa, justru dia menghambat kemampuan kreativitas siswa untuk mengenal dirinya sendiri sendiri serta lingkungan hidupnya. Hanya saja, proses pembelajaran melalui kegiatan bermain perlu diarahkan sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam hal ini, seorang peserta didik yang lebih berkarakter individual sebaiknya tidak dibiarakan untuk terlalu sibuk dengan “solitary play”. Oleh sebab itu, para siswa harus diarahkan untuk lebih aktif dalam kegiatan bermain kelompok (social game). Para peserta didik yang lambat dalam belajarnya dapat diberikan berbagai jenis kegiatan bermain yang lebih terarah pada pemusatan perhatian seperti mengkonstruksi suatu benda tertentu. Siswa yang kurang mampu untuk mengekspresikan diri secara verbal dapat dibina untuk mengembangkan bakat kreatifnya melalui media misalnya menggambar.

Pentingnya Kegiatan bermain Tradisional Terhadap Pembelajaran Siswa

Bermain merupakan hal yang paling disukai siswa. Bagi mereka, bermain adalah tugasnya. Melalui bermain, banyak yang dipelajari siswa. Mulai dari belajar bersosialisasi, menahan emosi, atau belajar hal lain, yang semuanya diperoleh secara integrasi.

1.      Siswa belajar melalui berbuat/learning by doing

Dengan diberi kesempatan untuk selalu mencoba hal-hal baru, bereksplorasi, siswa akan banyak memperoleh pengalaman baru, dan inilah yang disebut proses belajar yang sebenarnya.

2.      Siswa belajar melalui panca indera

Siswa belajar melalui penglihatan, rasa, penciuman, perabaan, dan pendengaran. Semua panca indera ini merupakan jalur penerimaan informasi ke otak. Dalam sebuah pembelajaran, jika lebih banyak panca indera dilibatkan, semakin banyak informasi yang diterima, dan disinilah proses belajar terjadi.

3.      Siswa belajar melalui bahasa

Para peerta didik harusnya diberi kesempatan untuk mengemukakan perasaan, pengalaman yang diperoleh, atau pikirannya. Pendidik dapat memicu perkembangan bahasa siswa dengan memperlihatkan beraneka ragam tulisan di kelas. Contohnya adalah tulisan untuk setiap benda-benda yang ada, dan tanya jawab tentang apa saja.

4.      Siswa belajar dengan bergerak

Usia siswa merupakan usia yang mempunyai keterbatasan dalam berkonsentrasi. Semakin lama siswa duduk dan diam, semakin bosan dan tidak tertarik terhadap apa yang sedang dipelajari. Siswa perlu dimotivasi dengan menggerakkan seluruh bagian tubuh, seperti tangan, kaki, badan, dan kepala. Namun pendidik juga selayaknya membimbing siswa dalam mengekspresikan imajinasi serta fantasinya ke dalam bentuk gambaran yang konkret dan tidak membiarkan siswa berfantasi tanpa arah yang jelas karena dapat mengakibatkan konfabulasi dalam proses berpikir siswa.

Macam-Macam Kegiatan bermain Tradisional untuk Pembelajaran Siswa

1.      Bola Beranting Diatas Kepala

Tujuan : Meningkatkan koordinasi tangan

Cara bermain

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok menghadap satu arah. Siswa yang didepan memegang bola, pendidik membunyikan peluit, bola yang didepan diberikan ke belakang melewati atas kepala. Siswa yang berada dibelakang segera memberikan bola kedepan barisan. Dan seterusnya

2.      Kegiatan bermain Lari Bolak Balik Sambil Memindakan Benda

Cara bermain

Para pemain diatur dan dibagi menjadi 4 baris berbanjar, kemudian pemain yang berada dibarisan paling depan berlari mengambil balok kemudian lari dan ditempatkan didekat garis awal. Setelah balok diletakkan siswa no.2 berlari mengambil balok lagi dan seterusnya. Dalam permainan ini pemenangnya ialah kelompok barisan yang paling banyak memindahkan balok tersebut.

3.      Kegiatan bermain Bola Beranting Berputar

Tujuannya : Melatih koordinasi dan kelenturan

Cara bermain

Para pemainnya dibagi menjadi beberapa kelompok. kemudian pemain yang terdepan memegang bola, pendidik memberi aba-aba. Siswa melempar bola dengan kedua tangannya kea rah siswa di belakangnya. Para pemain yang berhasil memegang bola dengan semua tangan, harus melakukan putaran 90 derajat dan melemparkan bola kebelakang sampai bola tersebut ditangkap dan berakhir pada siswa yang berada pada barisan terakhir

4.      Bermain Lomba Bola

Tujuan : Mengebagkan kemampuan menangkap dan melempar bola

Cara bermain

Dalam permainan ini para siswa harus diatus grupnya menjadi beberapa grup sesuai dengan jumlah bola yang dimainkan, pendidik member aba-aba kelompok 1 melemparkan bola ke kelompok lain dan melemparkannya lagi ke kelompok lain dan seterusnya secara berurutan. Sehingga bola kembali ke tempat semula. Siswa yang tidak dapat menangkap bola keluar dan harus mengembalikan bola ketempat semula.

5.      Kegiatan bermain Lomba Balok Berdiri

Tujuan : Mengembangkan kecepatan berlari, ketelitian dan kerjasama.

Permainan ini dilakukan dngan membuat garis 1 dan 2 diluar garis tempat menyimpan balok, kemudian siswa dibagi menjadi beberapa regu serta membentuk posisi berjajar di belakang garis 1. Pendidik membunyikan peluit, siswa yang lari lewat sebelah kanan barian menuju garis 2 mengambil balok. Kemudian pemain ke garis A untuk mendirikan balok dibelakang garis ditempat yang ditentukan.

6.      Kegiatan bermain Tempat Berputar Dalam Tali

Tujuan : Melatih keterampilan melompat dan koordinasi

Cara bermain

Tali diberi ujung yang ringan berupa kantong plastik. Siswa berbaris mbentuk lingkaran. Pendidik berada ditengan lingkaran sambil memegang salah satu ujung tali. Ketika permainan sudah dimulai maka siswa harus melompat tali yang setinggi lutut, siswa yang kakinya tersangkut pada tali harus keluar dari kegiatan bermain. Pemenangnya adalah siswa yang masih dapat melompat tali tersebut.

7.      Kegiatan bermain Berlomba Estafet

Tujuan : Melatih ketangkasan

Cara bermain

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan membentuk barisan. Pemain pertama memberikan tongkat pada siswa kedua dan seterusnya, pemenangnya adalah kelompok yang paling cepat memberikan tongkat pada siswa tang terakhir dalam barisan.

8.      Estafet Dengan Batu

Tujuan : Melatih kecepatan dan sikap kerjasama

Cara bermain

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan membentuk barisan. Jadi, pada waktu permainan sudah dimulai, para pemain yang posisinya berada didepan barisan berlari secepatnya menuju garis balik dengan mengambil batu yang ada di belakang garis dan kembali membawa batu kegaris semula serta meletakan ditempat yang sudah disediakan, para pelari berikutnya yang ada dibelakang garis segera berlari secepatnya seperti pelari 1.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *