Cara Menyiapkan Diri Menjadi Guru Olahraga SD

Kegiatan olahraga merupakan salah satu kegiatan yang sangat menarik bagi beberapa orang. Khususnya bagi mereka yang ahli di bidang tersebut. Mengingat akan hal itu, tidak heran jika ada banyak orang yang ingin menjadi guru olahraga. Dalam hal ini memulai menjadi guru olahraga sendiri bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan sebagai cara memulai menjadi guru olahraga.

Hal ini semakin cukup menantang lagi jika yang dimaksud adalah guru olahraga SD. Guru olahraga SD bahkan tidak hanya menuntut menguasai materi saja tetapi juga beberapa hal yang berhubungan dengan siswa. Lalu, bagaimana cara memulai menjadi guru olahraga SD dan apa saja persiapannya? Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahuinya.

Menempuh Pendidikan Di Bidang Olahraga

Hal pertama yang harus dilakukan ketika Anda akan menjadi seorang guru olahraga tentu saja adalah untuk mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengannya terlebih dahulu. Hal ini bisa dilakukan dengan menempuh pendidikan di bidang olahraga sehingga akan memudahkan Anda untuk bisa mendaftar ke salah satu instansi sekolah SD.

Untuk menyelesaikan pendidikan ini seorang guru olahraga harus berjuang sehingga bisa menguasai berbagai materi yang diberikan padanya. Tidak sampai di sana, nilai yang didapatkan pun harus di usahakan sebaik mungkin. Kedua aspek tersebut akan sangat membantu kelanjutan Anda sebagai guru olahraga nantinya sehingga jangan sampai di sia-siakan selama proses pendidikan.

Dengan memperhatikan materi dengan baik dan benar, kemampuan Anda akan terjamin dan predikat sebagai guru yang baik dan mumpuni sudah bisa didapatkan secara lebih mudah. Tanpa kemampuan yang bagus, akan sulit sebuah instansi mempercayakan murid-muridnya pada seorang guru. Sedangkan nilai yang bagus, nantinya akan sangat mendukung pertimbangan penerimaan sebagai bukti keberhasilan dalam bidang pendidikan sebagai guru olahraga.

Ketika sudah berhasil menyelesaikan pendidikan di bidang olahraga, pastikan segera mulai mempersiapkan diri lebih jauh untuk menjadi seorang guru yang handal dan bisa dipercaya. Seluruh kemampuan dan keahlian maupun materi yang sudah didapatkan selama di perguruan tinggi bisa ditularkan secara berkala pada setiap siswa di sekolah SD.

Mulai Belajar Beradaptasi Dengan Anak-Anak

Jika selama ini seseorang menghabiskan waktu di bangku sekolah tanpa bertemu dengan anak-anak melainkan hanya kawan-kawannya saja, berbeda saat menjadi guru nanti. Bahkan, untuk jenjang Sekolah Dasar ini semakin menantang lagi mengingat bahwa anak-anak yang ditemui masih sangat muda usianya sehingga perlu kebiasaan untuk berinteraksi dengan anak-anak.

Masalahnya adalah, tidak semua orang terbiasa berinteraksi atau bermain dengan ana-anak. Sedangkan ketika masuk instansi pendidikan tertentu, seorang guru tentu tidak dapat memilih akan mengajar kelas berapa. Jika kelas yang akan diajar adalah tingkatan paling bawah, maka sifat mereka lebih kekanak-kanakan lagi. Karena itulah, adaptasi sejak awal sangat penting.

Dengan mulai adaptasi dan pembiasaan dengan cara apa pun, maka saat dihadapkan pada situasi sedemikian rupa rasa terbiasa sudah muncul dengan sendirinya. Seorang guru akhirnya bisa lebih mudah dekat dengan murid-muridnya dan bisa memberikan berbagai aktivitas sesuai dengan yang diharapkan oleh para murid. Demikian juga dengan materi yang diajarkan, tentu akan lebih mudah di pahami.

Melihat akan beberapa alasan di atas, bisa dipahami bahwa membiasakan berinteraksi dengan anak-anak ini sangat penting dilakukan. Hal ini menjadi kabar baik bagi calon guru yang sudah terbiasa bermain atau beradaptasi dengan anak-anak baru. Hal itu akan sangat memudahkan karirnya sebagai pengajar dalam bidang olahraga ke depannya.

Berusaha Terbiasa Mengajar Dengan Permainan Yang Menghibur Para Peserta Didik

Ketika sudah bisa beradaptasi dengan baik bersama para peserta didik, di awal karir sebagai guru olahraga mungkin seseorang akan sedikit kesulitan. Hal ini mengingat bahwa anak-anak sulit untuk diajak serius dalam belajar mereka di bidang tersebut sekalipun. Kondisi tersebut menuntut seorang guru memiliki konsep pengajaran yang baik dan tepat sesuai yang mereka butuhkan dan pastinya mereka inginkan.

Salah satu yang sangat dekat dengan pengajaran terhadap anak-anak dalam bidang olahraga adalah bermain. Pelajaran olahraga adalah pelajaran paling mudah di Sekolah Dasar yang bisa diselipi permainan. Dengan kesempatan ini, maka seorang guru akan lebih mudah jika menerapkan permainan dalam setiap jam pelajaran sehingga bisa diterima dengan baik oleh para siswanya.

Namun demikian, untuk bisa memberikan suasana belajar sambil bermain dalam bidang olahraga, tentu lebih baik jika seseorang sudah terbiasa sebelumnya dengan hal tersebut. Jika belum terbiasa, maka membiasakan diri untuk bisa mengajar seperti ini sangat penting menjadi perhatian khusus sebelum mulai menjadi guru olahraga atau di awal tahun mengajar.

Untuk bisa menjadi guru olahraga SD yang baik, maka beberapa cara di atas bisa dilakukan sebelum mulai menempuh perjalanan dengan karir sebagai guru olahraga SD. Dengan persiapan yang baik dan matang akan memberikan hasil yang cemerlang juga.

Mengajar dengan Kegiatan bermain Tradisional yang Efektif

Harus dipahami bahwa setiap siswa bisa berkembang dalam hidupnya sebagian besar dipengarui oleh kegiatan bermain. Sampai-sampai, banyak orang yang tergila-gila dengan kegiatan bermain. Lihat saja, setiap pertandingan kegiatan bermain sepak bola, voli, balap karung, atau kegiatan bermain apa saja selalu banyak yang menonton. Hal itu membuktikan kalau kegiatan bermain memang digemari oleh banyak orang. Dalam hal ini pastinya, akan bisa memberikan efek yang luar biasa bagi perkembangan kejiwaan, kecerdasan, keterampilan, dan kesantunan siswa, apabila pendidik mengajar di kelas melalui kegiatan bermain.

Dalam kegiatan bermain, tidak hanya inti pelajaran saja yang dikembangkan, aspek kesantunan, kompetisi, kecepatan, dan keterampilan dapat diraih sekaligus. Pembelajaran melalui bermain akan membantu siswa mengurangi stres, dan mengembangkan rasa humornya. Bagi pendidik, kegiatan bermain merupakan kendaraan untuk belajar bagaimana belajar (learning how to learn) untuk kepentingan siswa. Lewat kegiatan bermain, siswa bertanya, meneliti lingkungan, belajar mengambil keputusan, berlatih peran sosial, dan secara umum memperkuat seluruh aspek kehidupan siswa sehingga membuat siswa menyadari kemampuan dan kelebihannya.

Pendidik harus teramat paham bahwa kegiatan bermain merupakan proses dinamis yang tidak menghambat siswa dalam proses belajar, sebaliknya justru menunjang proses belajarnya. Andaikata ada pendidik yang menolak terhadap aktivitas bermain siswa, justru dia menghambat kemampuan kreativitas siswa untuk mengenal dirinya sendiri sendiri serta lingkungan hidupnya. Hanya saja, proses pembelajaran melalui kegiatan bermain perlu diarahkan sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam hal ini, seorang peserta didik yang lebih berkarakter individual sebaiknya tidak dibiarakan untuk terlalu sibuk dengan “solitary play”. Oleh sebab itu, para siswa harus diarahkan untuk lebih aktif dalam kegiatan bermain kelompok (social game). Para peserta didik yang lambat dalam belajarnya dapat diberikan berbagai jenis kegiatan bermain yang lebih terarah pada pemusatan perhatian seperti mengkonstruksi suatu benda tertentu. Siswa yang kurang mampu untuk mengekspresikan diri secara verbal dapat dibina untuk mengembangkan bakat kreatifnya melalui media misalnya menggambar.

Pentingnya Kegiatan bermain Tradisional Terhadap Pembelajaran Siswa

Bermain merupakan hal yang paling disukai siswa. Bagi mereka, bermain adalah tugasnya. Melalui bermain, banyak yang dipelajari siswa. Mulai dari belajar bersosialisasi, menahan emosi, atau belajar hal lain, yang semuanya diperoleh secara integrasi.

1.      Siswa belajar melalui berbuat/learning by doing

Dengan diberi kesempatan untuk selalu mencoba hal-hal baru, bereksplorasi, siswa akan banyak memperoleh pengalaman baru, dan inilah yang disebut proses belajar yang sebenarnya.

2.      Siswa belajar melalui panca indera

Siswa belajar melalui penglihatan, rasa, penciuman, perabaan, dan pendengaran. Semua panca indera ini merupakan jalur penerimaan informasi ke otak. Dalam sebuah pembelajaran, jika lebih banyak panca indera dilibatkan, semakin banyak informasi yang diterima, dan disinilah proses belajar terjadi.

3.      Siswa belajar melalui bahasa

Para peerta didik harusnya diberi kesempatan untuk mengemukakan perasaan, pengalaman yang diperoleh, atau pikirannya. Pendidik dapat memicu perkembangan bahasa siswa dengan memperlihatkan beraneka ragam tulisan di kelas. Contohnya adalah tulisan untuk setiap benda-benda yang ada, dan tanya jawab tentang apa saja.

4.      Siswa belajar dengan bergerak

Usia siswa merupakan usia yang mempunyai keterbatasan dalam berkonsentrasi. Semakin lama siswa duduk dan diam, semakin bosan dan tidak tertarik terhadap apa yang sedang dipelajari. Siswa perlu dimotivasi dengan menggerakkan seluruh bagian tubuh, seperti tangan, kaki, badan, dan kepala. Namun pendidik juga selayaknya membimbing siswa dalam mengekspresikan imajinasi serta fantasinya ke dalam bentuk gambaran yang konkret dan tidak membiarkan siswa berfantasi tanpa arah yang jelas karena dapat mengakibatkan konfabulasi dalam proses berpikir siswa.

Macam-Macam Kegiatan bermain Tradisional untuk Pembelajaran Siswa

1.      Bola Beranting Diatas Kepala

Tujuan : Meningkatkan koordinasi tangan

Cara bermain

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok menghadap satu arah. Siswa yang didepan memegang bola, pendidik membunyikan peluit, bola yang didepan diberikan ke belakang melewati atas kepala. Siswa yang berada dibelakang segera memberikan bola kedepan barisan. Dan seterusnya

2.      Kegiatan bermain Lari Bolak Balik Sambil Memindakan Benda

Cara bermain

Para pemain diatur dan dibagi menjadi 4 baris berbanjar, kemudian pemain yang berada dibarisan paling depan berlari mengambil balok kemudian lari dan ditempatkan didekat garis awal. Setelah balok diletakkan siswa no.2 berlari mengambil balok lagi dan seterusnya. Dalam permainan ini pemenangnya ialah kelompok barisan yang paling banyak memindahkan balok tersebut.

3.      Kegiatan bermain Bola Beranting Berputar

Tujuannya : Melatih koordinasi dan kelenturan

Cara bermain

Para pemainnya dibagi menjadi beberapa kelompok. kemudian pemain yang terdepan memegang bola, pendidik memberi aba-aba. Siswa melempar bola dengan kedua tangannya kea rah siswa di belakangnya. Para pemain yang berhasil memegang bola dengan semua tangan, harus melakukan putaran 90 derajat dan melemparkan bola kebelakang sampai bola tersebut ditangkap dan berakhir pada siswa yang berada pada barisan terakhir

4.      Bermain Lomba Bola

Tujuan : Mengebagkan kemampuan menangkap dan melempar bola

Cara bermain

Dalam permainan ini para siswa harus diatus grupnya menjadi beberapa grup sesuai dengan jumlah bola yang dimainkan, pendidik member aba-aba kelompok 1 melemparkan bola ke kelompok lain dan melemparkannya lagi ke kelompok lain dan seterusnya secara berurutan. Sehingga bola kembali ke tempat semula. Siswa yang tidak dapat menangkap bola keluar dan harus mengembalikan bola ketempat semula.

5.      Kegiatan bermain Lomba Balok Berdiri

Tujuan : Mengembangkan kecepatan berlari, ketelitian dan kerjasama.

Permainan ini dilakukan dngan membuat garis 1 dan 2 diluar garis tempat menyimpan balok, kemudian siswa dibagi menjadi beberapa regu serta membentuk posisi berjajar di belakang garis 1. Pendidik membunyikan peluit, siswa yang lari lewat sebelah kanan barian menuju garis 2 mengambil balok. Kemudian pemain ke garis A untuk mendirikan balok dibelakang garis ditempat yang ditentukan.

6.      Kegiatan bermain Tempat Berputar Dalam Tali

Tujuan : Melatih keterampilan melompat dan koordinasi

Cara bermain

Tali diberi ujung yang ringan berupa kantong plastik. Siswa berbaris mbentuk lingkaran. Pendidik berada ditengan lingkaran sambil memegang salah satu ujung tali. Ketika permainan sudah dimulai maka siswa harus melompat tali yang setinggi lutut, siswa yang kakinya tersangkut pada tali harus keluar dari kegiatan bermain. Pemenangnya adalah siswa yang masih dapat melompat tali tersebut.

7.      Kegiatan bermain Berlomba Estafet

Tujuan : Melatih ketangkasan

Cara bermain

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan membentuk barisan. Pemain pertama memberikan tongkat pada siswa kedua dan seterusnya, pemenangnya adalah kelompok yang paling cepat memberikan tongkat pada siswa tang terakhir dalam barisan.

8.      Estafet Dengan Batu

Tujuan : Melatih kecepatan dan sikap kerjasama

Cara bermain

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan membentuk barisan. Jadi, pada waktu permainan sudah dimulai, para pemain yang posisinya berada didepan barisan berlari secepatnya menuju garis balik dengan mengambil batu yang ada di belakang garis dan kembali membawa batu kegaris semula serta meletakan ditempat yang sudah disediakan, para pelari berikutnya yang ada dibelakang garis segera berlari secepatnya seperti pelari 1.

Berbagai Jenis Permainan Tradisional untuk Pendidikan

Dalam hal ini, kegiatan bermain pada zaman dahulu merupakan salah satu bentuk folklore yang berupa  yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional  dan diwarisi turun temurun, serta banyak mempunyai variasi.  Jadi, aktivitas dalam bermain pada zaman dahulu umumnya dikenalkan dan disebarkan dari satu orang ke orang lain dan kadangkadang mengalami perubahan nama atau  bentuk meskipun dasarnya sama. Jadi, jika hal ini dilihat dari dasarnya, maka permainan tradisional tidak lain adalah kegiatan yang  diatur oleh suatu peraturan permainan  yang merupakan pewarisan dari generasi  terdahulu yang dilakukan manusia (siswa-siswa) dengan tujuan mendapat  kegembiraan. 

Permainan  tradisional siswa merupakan unsur  kebudayaan, karena mampu memberi pengaruh terhadap perkembangan kejiwaan,  sifat, dan kehidupan sosial siswa. Permainan tradisional siswa ini juga dianggap  sebagai salah satu unsur kebudayaan  yang memberi ciri khas pada suatu kebudayaan tertentu. Maka dari itu,  kegiatan bermain pada zaman dahulu merupakan aset budaya, yaitu modal untuk suatu masyarakat untuk mempertahankan eksistensi dan identitasnya di tengah masyarakat lain. Kegiatan bermain pada zaman dahulu bisa bertahan atau dipertahankan karena pada umumnya mengandung unsur-unsur budaya  dan nilai-nilai moral yang tinggi, seperti: kejujuran, kecakapan, solidaritas, kesatuan dan persatuan, keterampilan dan keberanian.

Bahkan bisa juga disebut sebagai kegiatan bermain pada zaman dahulu yang bisa dijadikan salah satu alat pembinaan nilai budaya pembangunan kebudayaan nasional Indonesia. Dengan adanya kegiatan bermain zaman dahulu, maka semakin hari semakin tergeser dengan adanya permainan modern, seperti video game dan virtual game lainnya. Dengan munculnya berbagai kecanggihan dari teknologi pada permainan, di satu pihak mungkin dapat menstimulasi perkembangan kognitif siswa, namun di sisi lain, permainan ini dapat mengkerdilkan potensi siswa untuk berkembang pada aspek lain, dan mungkin tidak disadari hal tersebut justru menggiring siswa untuk mengasingkan diri dari  lingkungannya, bahkan cenderung bertindak kekerasan.

Berbagai Jenis Permainan Tradisional untuk Pendidikan

1.      Permainan Menjala Ikan

kegiatan bermain pada zaman dahulu ini selain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keterampilan gerak siswa-siswa juga untuk menyalurkan hasrat bergerak dan menciptakan suasan kesenangan dan kegembiraan untuk siswa-siswa.

2.      Permainan Kucing Dan Tikus

Dalam melakukannya maka para pemain akan dijadikan dua kelompok,salah satu kelompok membuat lingkaran sambil berpegangan tangan,sedangkan kelompok yang lainya tertangkapmaka harus menjadi kucing dan yang tadi menjadi kucing tertuka menjadi tikus.

3.      Permainan Gobak Sodor (Galasin)

Kegiatan bermain pada zaman dahulu gobak sodor sering juga disebut permainan galasin atua permainan hadang.Permainan ini termaksud salah satu permainan tradisional. Kegiatan bermain pada zaman dahulu ini dimainkan oleh dua regu yang masing-masing regu terdiri dari lima orang pemain.

4.      permainan Hijau-Hitam

Tujuan : Melatih kecepatan berlari dan beraks

Cara bermain

Buatlah barisan yang saling menghadap, Jika suara tanda permainan sudah mulai dibunyikan, jika guru menyebut hijau, kelompak hijau harus berlari menuju garis bebas. Kemudian untuk kelompok hitam harus menangkap kelompok hijau yang sedang berusaha menuju garis bebas, dan demikian sebaliknya.

5.      Peluang Pulang Kerumah Dengan Cepat

Tujuan : Melatih kecepatan lari dan beraksi

Cara bermain

Cara melakukannya adalah membuat 4 barisan, kemudian tentukan setiap sudut menjadi rumah mereka, peserta berkeliling pada lingkaran yang telah ditentukan. Apabila tanda sudah dimulai maka seluruh regu harus berlari menuju rumah yang telahditentukan. Pemenangnya adalah kelompok yang paling cepat kembali kerumahnya.

6.      Permainan Berhadapan Atau Berbelakangan

Tujuan : Melatih kecepatan berlari dan beraksi

Cara bermain

Untuk melakukan permainan ini, maka seorang pemain harus membuat sebuah lingkaran dan bergandengan tangan satu kali bunyi peluit membentuk pasangan tiga orang bergandengan tangan dan berhadapan. Dua kali bunyi peluit berpasangan tiga orang bergandengan tangan dan berbelakangan. Tiga kali bunyi peluit harus jongkok di tempat masing masing. Pemenangannya adalah tiga orang berpasangan bergandeng tangan berbelakangan.

7.      Permainan Melayan

Tujuan : Mengembangankan kecepatan dan kelincahan

Cara bermain

Buatlah lingkaran sebanyak ¾ kelompok. Dalam permainan ini, masing-masing lingkaran harus diisi oleh satu orang nelayan, dan setiap kelompok diberi mana jenis-jenis ikan. Pemain yang menjadi seorang nelayan harus berlari kesana kemari sambil menyebut salah satu nama ikan, contoh lele-lele keluarlah dari persembunyian. Lele berlari menyebar dan nelayan menangkapnya. Nelayan menyentuh lele sambil menghitungnya. Pemenangnya dilihat dari jumlah ikan yang tidak tertangkap.

8.      Permainan Elang dan Ayam

Tujuan : Kemampuan mengejar dan menghindar

Cara bermain

Siswa-siswa berbaris Saling berpeganggan baju satu sama lainnya. Siswa yang berdiri paling depan menjadi induk ayam, yang dibelakangnya menjadi siswa ayam. Sedangkan elang sendiri bebas bergerak menangkap siswa ayam yang paling belakang, induk ayam bergerak dengan posisi tangan dii rentangkan, untuk melindungi siswanya. Siswa ayam yang telah disentuh oleh burung elang keluar dari barisannya sampai habis siswa ayamnya tertangkap.

Manfaat Permainan Tradisional untuk Pendidikan

Permainan tradisional yang ada di Nusantara ini dapat menstimulasi berbagai aspek perkembangan siswa, seperti :

1.      Aspek motorik

Keiatan ini memang bisa melatih daya tahan, daya lentur, sensorimotorik, motorik kasar, motorik halus.

2.      Aspek kognitif

Mampu meningkatkan daya ingat, kreativitas, problem solving, strategi, antisipatif,     pemahaman   kontekstual pada siswa.

3.      Aspek emosi

Mampu mengasah empati, pengendalian diri

4.      Aspek bahasa

Pemahaman konsep-konsep nilai

5.      Aspek sosial

Hal ini dapat dengan mudah melakukan adaptasi, kerjasama, serta mampu dengan mudah melatih kematangan sosial dengan teman sebaya dan meletakkan pondasi untuk melatih keterampilan sosialisasi berlatih peran dengan orang yang lebih dewasa/masyarakat.

6.      Aspek spiritual

Menyadari keterhubungan dengan sesuatu yang bersifat Agung (transcendental).

7.      Aspek ekologis

Memahami pemanfaatan elemen-elemen alam sekitar secara bijaksana.

8.      Aspek nilai-nilai/moral

Mampu memahami dan mengerti dengan baik mengenai nilai-nilai moral yang diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya.

Apabila dipelajari dengan baik dan secara mendalam, maka ada sesuatu yang sangat penting untuk dimengerti didalam kegiatan tersebut yaitu mengandung pesan-pesan moral dengan muatan kearifan lokal (local wisdom) yang luhur dan sangat sayang jika generasi sekarang tidak mengenal. Aktivitas bermain zaman dahulu memang tidah cuma permainan yang mengandung kesenangan semata. Akan tetapi dapat melatih kemampuan motorik siswa, sikap siswa, dan juga ketrampilan siswa. Serta dapat membentuk karakter siswa yang luhur.

Untukm melakukan dan juga menerima sikap perubahan sosial didalam masyrakat kita memang harus bersifat terbuka dan dinamis terhadap perkembangan zaman, perkembangan dunia IT. Perlu diketahui jika status sosial serta perubahannya akan terjadi apabila masyarakat menerima masuknya perubahan itu sendiri, maka dari itu kita perlu yang namanya kesadaran sejak dini untuk menjaga dan melstarikan kebudayaan lokal masyarakat sekitar, jika bukan kita yang menjaga kebudayaan tersebut, siapa lagi dan tidak akan menutup kemungkinan memudarnya permainan tradisional.

Pemanfaatan Permainan Tradisional Sebagai Media Pembelajaran SD

Belajar merupakan suatu proses belajar yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang yang hidup. Kegiatan pembelajaran itu terjadi disebabkan adanya interaksi antara manusia dengan lingkunganya. Maka dari itu, perlu diketahui jika sebuah pembelajaran dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu tanda bahwa seseorang itu telah belajar merupakan adanya perubahan tingkah laku pada diri orang tersebut yang mungkin terjadi oleh perubahan pada pengetahuan,keterampilan atau sikap. Jika kegiatan dalam pembelajaran itu di selenggarakan secara formal di sekolah-sekolah. Hal ini bertujuan utama untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa. Baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap.

Jadi, ketika melaksanakan proses belajar tersebut dipengaruhi oleh  lingkungan yang antara lain yaitu: terdiri atas murid, guru, dan staf sekolah lainnya. Kemudian pembelajaran lainya yaitu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong pembaharuan dalam proses pembelajaran. Bangsa mana yang tidak bangga pada permainan budaya. Karenanya, menggali, melestarikan dan mengembangkan permainan tradisional merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Sudah bukan rahasia lagi jika permainan tradisional merupakan salah satu bagian terbesar dalam suatu kerangka yang lebih luas yaitu kebudayaan.

Permainan tempo dulu sebenarnya sangat baik untuk melatih fisik dan mental siswa. Sebab, melalui kegiatan tersebut, maka akan menjadikan para peserta didik dilatih untuk menjadi lebih kreatifitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan, dan keluasan wawasannya melalui permainan tradisional. Namun sayangnya seiring kemajuan jaman, permainan yang bermanfaat bagi siswa ini mulai ditinggalkan bahkan dilupakan. Para peserta didik lebih tertarik oleh kecanggihan televisi dan video game yang ternyata banyak memberi dampak negatif bagi siswa-siswa, baik dari segi kesehatan, psikologis maupun penurunan konsentrasi dan semangat belajar. Kita sadari atau tidak nilai edukasi yang tersimpan didalamnya, merupakan nilai yang timbul dalam masyrakat itu sendiri.

Nilai edukasi itu sendiri terbentuk , karena masyarakat indonesia cenderung menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan memupuk semangat kerjasama membentuk karakter masyarakat indonesia yang ramah dan terkenal tinggi akan kemauan, melalui permainan/olahraga tradisionalnya. Inti dari aktivitas ini adalah sebenarnya untuk mengembangkan konsep diri (self concept), untuk mengembangkan kreativitas, untuk mengembangkan kopmunikasi, untuk mengembangkan aspek fisik dan motorik, mengembangkan aspek sosial, serta mengasah ketajaman pengindraan, mengembangkan keterampilan olahraga dan menari.

Permainan Tradisonal Sebagai Media Pembelajaran SD

Pemanfaatan suatu permainan dalam sebuah pendidikan sebagai alat bantu pada pembelajaran  merupakan alat yang digunakan untuk membantu mengungkap gejala dan menanamkan konsep  dengan perlakuan (treatment) tertentu. Adapun alat yang digunakan dalam mengungkap gejala dan menanamkan konsep  di sini terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari alat taradisional yang dijadikan permainan tardisional siswa dari masa kemasa, yang ada kaitannya dengan pembelajaran. Pada dasarnya bahwa siswa sekolah dasar merupakan dunia bermain yang merupakan kehidupan siswa-siswa, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan aktivitas bermain.

Permainan dapat digunakan sebagai media belajar untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada siswa. Karena dalam kegiatan bermain  sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan mengunakan atau tanpa mengunakan alat yang dapat dapat memberikan informasi, memberikan kesenangan, dan mengembangkan imajinasi siswa. Perlu dipahami jika pembelajaran dengan menerapkan permainan tradisional akan mampu memberikan kesempatan pada siswa untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru, untuk menemukan penggunaan suatu hal dengan tidak sama, menemukan hubungan yang baru antara satu dengan yang lain.

Harus dipahami juga bahwa belajar dengan permainan memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif, serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas siswa. Ketika menerapkan permainan tradisional sebagai media belajar maka dapat memberikan kenyamanan dan menumbuhkan kreatifitas siswa dalam belajarnya, permainan tersebut lebih diarahkan pada pemahaman konsep dan pemaknaan dibalik permainan tersebut terhadap pembelajaran sesuai dengan topik materi yang ada sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar dalam mencapai prestasi.

Maka dari itu, seorang pendidik diupayakan untuk memafaatkan semua alat (permainan) dalam proses belajar mengajar sehingga kegiatan belajar dapat tercapai dengan baik. Seorang pendidik seharusnya memberikan rangsangan  yang dapat diproses oleh indara. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang dapat disesuaikan pada materi  salah satunya diantaranya yaitu:

1.      Permainan Bola bekelan

Permainan ini merupakan mainan tradisional yang sering dimainkan oleh siswa-siswa perempuan di masa lalu atau sampai sekarang yang dilakukan secara berkelompok, mainan ini juga dapat dijadikan media pembelajaran  mengenai pelajaran gaya gravitasi yang bertujuan untuk mengetahui kecepatan jatuh benda ketika bola bekel dimainkan, hal ini melihat jatuhnya bola bekel yang dilempar keatas. Hal tersebut diakibatkan adanya pengaruh gaya gravitasi. Bola bekel sebagaimana pada gamber  tersebut:

2.      Permainan Parasut

Aktivitas ini adalah suatu mainan siswa-siswa yang dibuat dari bahan-bahan tradisional, mainan ini juga sering dimainkan siswa-siswa usia dini maupun siswa sekolah dasar. Pada mainan ini, secara sederhana dapat dijadikan media pembelajaran .

3.      Permainan Yo-yo

Perlu diketahui bahwa permainan yoyo adalah salah satu permainan yang terbuat dari kayu yang dibentuk dua benjolan sama yang ditengahnya diberi ruang untuk tali sumbu, di mana tergulung tali yang digunakan. Permainan yo-yo merupakan salah satu permainan yang populer di banyak bagian dunia. Walaupun secara umum dianggap permainan siswa-siswa, akan tetapi tidak sedikit orang dewasa yang memiliki kemampuan profesional dalam memainkan yoyo.

Perlu diketahui jika permainan ini merupakan kegiatan yang dimainkan dengan mengaitkan ujung bebas tali pada jari tengah, memegang yo-yo, dan melemparkannya ke bawah dengan gerakan yang mulus. Jadi, ketika tali terulur pada sumbu, efek giroskopik akan terjadi, yang memberikan waktu untuk melakukan beberapa gerakan. Caranya adalah melaluai gerakan pergelangan tangan, yo-yo dapat dikembalikan ke tangan pemain, di mana tali akan kembali tergulung dalam celah sumbu.

4.      Permainan Gasing

Permainan ini merupakan mainan yang bisa berputar pada poros dan berkeseimbangan pada suatu titik. Permainan tradisional ini merupakan salah satu mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Harus dimengerti jika sebagian besar permainan ini terbuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, papan atau bahan-bahan lain. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari bahan  pohon pisang yang sudah kering tetapi ada pula gasing tanpa tali tetapi hanya dengan menggunakan dua tangan.

Melalui media pembelajaran sangatlah membantu dalam upaya efektifitas kegiatan pembelajaran di sekolah, khususnya dengan permainan tradisional sebagai media pembelajaran dapat memberikan solusi bagi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran  di sekolah, disampaing mudah di buat, efektif, dapat melestarikan permainan tradisional yang sudah punah dikalangan siswa dan nuansa pembelajaran rileks penuh dengan kegiatan bermain sesuai dengan karakteristik kehidupan siswa sekolah dasar.

Permainan Tradisional Sebagai Media Pembelajaran Pada Siswa Sekolah Dasar

Perlu diketahui bahwa beranekaragamnya dari manfaat permaianan bagi proses pembelajaran perlu adanya pelestarian terhadap keutuhan permaianan tersebut. Apabila warian budaya mengenai permainan ini tidak dilestarikan, maka akan sulit bagi siswa-siswa untuk menerima hal yang sama yang dahulu mereka mainkan bahkan yang pernah dimainkan pula oleh ayah, ibu, dan kakek-neneknya. Mengenai proses dari menjalankan pembelajaran dengan memakai media permainan tradisional bisa dikerjakan dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar.

Dalam hal ini kita bisa mempelajari mengenai contoh dalam permainan gasingan yang terbuat dari kayu, layangan, yoyok, parasut dan-lain-lain. Bagi siswa permainan dapat dijadikan kegiatan yang serius, tetapi mengasyikan. Dengan menerapkan pembelajaran melalui permaianan tradisional, berbagai pekerjaannya dapat terwujud dan permainan dapat dipilih oleh siswa karena menyenangkan bukan untuk memperoleh hadiah atas pujian dan siswa di usia sd adalah masa bermain untuk masa perkembangan selanjutnya, karena dengan bermain siswa pada usia SD ini akan menentukan upaya perkembangannya sesuai dengan apa yang di milikinya.

Ketika melakukan proses pembelajaran maka kehadiran media mempunyai makna yang cukup penting. Sebab melalui aktivitas permainan itu, maka ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Dalam dunia pendidikan, sebuah media merupakan suatu alat bantu apa saja termasuk mainan tradisional yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran”. Sebuah alat bantu pembelajaran harus meningkatkan motivasi siswa dan merangsang siswa mengingat yang sudah dipelajari dan memberikan rangsangan baru.

Tentang Permainan Tradisional

Perlu dipahami bahwa aktivitas bermain warisan nenek moyang zaman dahulu merupakan suatu simbol dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan siswa tetap merupakan permainan siswa. Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan siswa karena tujuannya sebagai media permainan. Aktivitas pembelajaran dengan bermain yang bisa menumbuhkan dan meningkatkan aspek-aspek psikologis siswa dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.

Aktivitas ini adalah suatun warisan antar generasi yang mempunyai makna simbolis di balik gerakan, ucapan, maupun alat-alat yang digunakan. Pesan-pesan tersebut bermanfaat bagi perkembangan kognitif, emosi dan sosial siswa sebagai persiapan atau sarana belajar menuju kehidupan di masa dewasa. Cepatnya pertumbuhan dan perkembangan permainan elektronik membuat posisi permainan tradisional semakin tergerus dan nyaris tak dikenal. Melihat adanya fakta itu maka butuh sebuah usaha-usaha dari banyak pihak untuk mengatur dan melestarikan keberadaannya melalui pembelajaran ulang pada generasi sekarang melalui proses modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi sekarang. Oleh karena itu, bahwa permainan tradisional disini adalah permainan siswa-siswa dari bahan sederhana sesuai aspek budaya dalam kehidupan masyarakat. 

Selain itu, aktivitas bermain zaman dahulu ini juga dikenal sebagai sebuah kegiatan rekreatif yang bukan cuma bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial. Mengenai permasalahan ini, bermain yang diterapkan dalam pembelajaran merupakan alat bagi siswa untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dia ketahui sampai pada yang dia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya, sampai mampu melakukannya. Maka dari itu, aktivitas bermain suatu kebutuhan bagi siswa. Melalui cara menyusun dan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain yang sesui dengan taraf kemampuannya. 

Permainan tradisonal sebagai media pembelajaran

Perlu diketahui jika suatu media yang mempermudah dalam proses pembelajaran adalah bermain (penggunaan media sederhana) pada pembelajaran merupakan alat yang digunakan untuk membantu mengungkap gejala dan menanamkan konsep sains dengan perlakuan (treatment) tertentu. Adapun alat yang digunakan dalam mengungkap gejala dan menanamkan konsep sains di sini terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari alat taradisional yang dijadikan permainan tardisional siswa dari masa kemasa, yang ada kaitannya dengan pembelajaran. Pada dasarnya bahwa siswa sekolah dasar merupakan dunia bermain yang merupakan kehidupan siswa-siswa, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan aktivitas bermain.

Permainan dapat digunakan sebagai media belajar untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada siswa. Karena dalam kegiatan bermain  sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan mengunakan atau tanpa mengunakan alat yang dapat dapat memberikan informasi, memberikan kesenangan, dan mengembangkan imajinasi siswa. Dengan permainan juga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru, untuk menemukan penggunaan suatu hal yang tidak sama, mendapatkan hubungan yang baru antara satu dengan yang lain.

Kemudian pada waktu belajar dengan menerapkan sebuah permainan, maka akan memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif, serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas siswa. Maka dari itu, Sebagai seorang pendidik diusahakan untuk memafaatkan semua alat (permainan) dalam proses belajar mengajar sehingga kegiatan belajar dapat tercapai dengan baik. Seorang pendidik seharusnya menampilkan rangsangan  yang dapat diproses oleh indara. Dalam hal ini, apabila alat indra yang digunakan untuk menerima pelajaran itu banyak, maka semakin besar kemungkinan pengetahuan yang dimengerti dan dipahami.

1.      Media pembelajaran permainan tradisional monopoli

Perlu diketahui bahwa permainan ini merupakan salah satu jenis permainan ketangkasan dalam berstrategi. Dimana karakteristik permainan ini sangat cocok dimainkan oleh siswa-siswa maupun remaja bahkan orang dewasa sekalipun. Jadi, kegiatan bermain ini juga dapat dipakai untuk sebuah media pembelajaran dimana dalam permainan ini berisi tentang strategi, kepemimpinan, ketekunan, kedipsilan dan pengetahuan umum serta keterampilan sosial dengan teman sebaya. Melalui penjelasan ini, maka pemahaman tentang permainan monopoli sebagai media pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru, akademisi, mahasiswa maupun aktivis pendidikan di sekolah maupun dilingkungan sosial lainnya. Dimana permainan monopoli dipilih karena termasuk suatu permainan yang digemari siswa-siswa dan remaja.

2.      Media pembelajaran permainan tradisional dakon

Permainan tradisional ini dapat digunakan dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan minat belajar peserta didik. Semangat dalam belajar bisa berkembang karena peserta didik merasa senang dengan permainan yang diintegrasikan dalam pembelajaran matematika. Perlu diketahui jika permainan dakon bila diterapkan di pelajaran maka efektif untuk meningkatkan kemampuan berhitung peserta didik sekolah dasar.

3.      Media pembelajaran permainan tradisional pasaran

Peserta didik akan masuk dalam dunia nyata untuk mempelajari penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dalam permainan pasaran, peserta didik memperagakan proses jual beli seperti pada kondisi pasar yang sebenarnya. Melalui sebuah pengalaman langsung seperti itu, peserta didik akan lebih memahami konsep aritmetika sosial.

4.      Media pembelajaran permainan tradisional engklek

Permainan tradisional ini dapat dimanfaatkan untuk mempelajari konsep luas bangun datar persegi, persegi panjang, dan trapesium. Tidak sedikit permainan di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk mempelajari konsep matematika. Dengan sebuah permainan tersebut, peserta didik mendapat pengalaman langsung dalam situasi nyata untuk mempelajari suatu kosep matematika.

Peranan Penting Permainan Tradisional Dalam Pendidikan

Tercapainya tujuan untuk sebuah pembelajaran bukan cuma sekedar ditentukan oleh tingginya pendidikan seorang pendidik. Dengan adanya suatu kelengkapan mengenai sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang berhasilnya pembelajaran. Dengan fakta kurangnya penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan yang ada di lingkungan sekitar. Dalam hal ini, sebuah permainan tradisional daerah juga mempunyai peran besar untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran. Perlu dipahami bersama bahwa pembelajaran di Sekolah diharuskan bukan cuma sekedar bersifat teoritik tetapi juga dapat mengenalkan media pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisonal.

Sebab dalam permaianan tradisional mempunyai nilai nilai pengetahuan yang seharusnya dilestarikan oleh guru, walaupun pada kenyataannya permainan tradisional sedikit demi sedikit ditinggalkan. Dalam dunia pendidikan, permainan tradisional merupakan salah satu ciri suatu bangsa, dan hasil suatu peradaban. Negara mana yang tidak senang pada permainan budaya. Maka dari itu, menggali, melestarikan dan mengembangkan permainan tradisional merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Permainan tradisional ini bukan cuma skedar jadi ciri suatu bangsa, permaian tradisional merupakan salah satu bagian terbesar dalam suatu kerangka yang lebih luas yaitu kebudayaan.

Tidak dpat dipungkiri lagi jika sebuah permainan tradisional tersebut sebenarnya sangat baik untuk melatih fisik dan mental anak. Para siswa diajari pembelajaran mengenai kreatifitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan, dan keluasan wawasannya melalui permainan tradisional. Tetapi harus dipahami jika dengan zaman yang semakin maju saat ini, permainan yang bermanfaat bagi siswa ini mulai ditinggalkan bahkan dilupakan. Para peserta didik sudah terburu oleh kecanggihan televisi dan video game yang ternyata banyak memberi dampak negatif bagi anak-anak, baik dari segi kesehatan, psikologis maupun penurunan konsentrasi dan semangat belajar.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya aktivitas bermain zaman dahulu itu menyimpan sebuah keunikan, kesenian dan manfaat yang lebih besar seperti kerja sama tim, olahraga, terkadang juga membantu meningkatkan daya otak. Hal ini memang sangat berbeda dengan permainan siswa zaman sekarang yang hanya duduk diam memainkan permainan dalam layar monitor dan sebagainya. Dengan semakin berkembang pesatnya arus globalisasi di Negara Indonesia yang membawa pola kehidupan dan hiburan baru, mau tidak mau, memberikan dampak tertentu terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat.

Pentingnya Mengenal Permainan Tradisional

Harus dipahami bersama bahwa dengan mengetahui sebuah permainan tradisional maka akan mengantarkan mereka pada permainan yang bermanfaat dalam kegiatan belajar untuk meraih prestasi di masa yang akan datang. Jika para siswa tidak mengenalnya di masa muda, maka akan sulit bagi para peerta didik untuk menerima hal yang sama yang dahulu mereka mainkan bahkan yang pernah dimainkan pula oleh ayah, ibu, dan kakek-neneknya. Mengenai proses pelaksanaan dalam pembelajaran dengan memanfaatkan permainan tradisional dapat dilakukan dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar. Contohnya adalah dalam permainan gasingan yang terbuat dari kayu, layangan, yoyok, parasut dan-lain-lain. Buat para peerta didik permainan dapat dijadikan kegiatan yang serius, tetapi mengasyikan.

Jenis-jenis Permainan Tradisional untuk Pembelajaran

Hingga saat ini Negara kita tidak sedikit jenis-jenis permainan tradisional yang bisa diterapkan dalam pembelajaran, hampir di seluruh daerah-daerah telah mengenalnya bahkan pernah mengalami masa-masa bermain permainan tradisional ketika kecil. Aktivitas ini memang perlu dikembangkan lagi karena mengandung banyak unsur manfaat dan persiapan bagi siswa dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Berikut berbagai contoh permainan tradisional akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :

1.      Permainan Tradisional Galasin

Permainan tradisional ini juga bisa disebut permainan gobak sodor yang merupakan sejenis permainan daerah asli dari Indonesia. Aktivitas ini merupakan salah satu aktivitas bermain tipe kelompok yang anggotanya terdiri dari dua kelompok, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 sampai 5 orang. Dalam melakukan permainan ini umumnya dilakukan di sebuah lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segi empat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Untuk pembatas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Pemain yang memperoleh giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota kelompok yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal.

2.      Permainan Tradisional Congklak

Permainan tradisional ini merupakan salah satu jenis permainan yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh indonesia. Umumnya untuk melakukan permainan ini, bekas rumah dari hewan kerang dipakai sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.

3.      Permainan Tradisional Petak Umpet

Perlu diketahui jika untuk melakukan permainan ini bisa dilakukan dengan dua orang saja, Namun jika semakin banyak yang bermain maka akan menjadi semakin seru. Untuk melakukan permainan ini bisa dikatakan lumayan gampang, permainan ini dimulai dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi “kucing” (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Pemain yang menjadi kucing ini harus melakukan satu hal yaitu menutup mata dan menghitung sampai 10.

Hal ini biasanya dilakukan oleh pemain adalah berdiri menghadap ke tembok, pohon atau apa saja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi (tempat jaga ini mempunyai sebutan yang berbeda di setiap daerah. Apabila hitungan yang disepakati sudah selesai, contohnya jika wilayahnya terbuka, hitungan biasanya ditambah lagi dan setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si “kucing” beraksi mencari teman-temannya tersebut.

4.      Permainan Tradisional Gasing

Untuk permainan tradisional ini merupakan sebuah permainan yang bisa berputar pada poros dan berkeseimbangan pada suatu titik. Permainan ini merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Permainan tradisional ini tidak hanya dimainkan oleh para siswa dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib. Umumnya permainan gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Untuk talinya gasing biasanya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Mengenai panjang dari sebuah tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

5.      Permainan Tradisional Kelereng

Sebuah permainan tradisional ini merupakan salah satu permainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Mengenai ukuran dari kelereng sangat bermacam-macam. Biasanya adalah 0,5 inci. Permainan tradisional yang satu ini bisa digolongkan sebagai permainan anak, dan kadang dikoleksi, untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik.

6.      Permainan Tradisional Egrang

Perlu diketahi bahwa permainan tradisional ini merupakan galah atau tongkat yang digunakan seseorang agar bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah. Dalam melaksanakan aktivitas tradisional ini yaitu alatnya harus diberi panjatan sebagai tempat berdiri, atau tali pengikat untuk diikatkan ke kaki, untuk tujuan berjalan selama naik di atas ketinggian normal.

Pentingnya Permainan Tradisional Dalam Pembelajaran Siswa

Perlu dipahami bersama jika aktivitas bermain pada zaman dahulu merupakan suatu sebuah lambang dari pengetahuan yang berkelanjutan dan mempunyai beranekaragam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan siswa tetap merupakan permainan siswa. Melalui hal itu pembelajaran tetap menyenangkan dan menggembirakan siswa karena tujuannya sebagai media permainan. Dalam hal ini, suatu permainan yang bisa menumbuhkan dan mengembangkan aspek-aspek psikologis siswa dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.

Belajar dengan sebuah permainan ini dipakai untuk mencakup jangkauan kegiatan dan prilaku yang luas serta mungkin bertindak sebagai ragam tujuan yang sesuai dengan usia siswa. Oleh karena itu, bahwa permainan tradisional disini merupakan permainan siswa-siswa dari bahan sederhana sesuai aspek budaya dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan ini sangat populer sebagai permainan rakyat yang ramah lingkungan yang merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial. Dengan demikian bermain suatu kebutuhan bagi siswa.

Kegiatan belajar dengan sebuah permainan yang tradisional ini merupakan salah satu wujud yang berupa permainan siswa-siswa, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun serta banyak mempunyai variasi. Sifat atau cirri dari permainan tradisional siswa sudah tua usianya, tidak diketahui asal-usulnya, siapa penciptanya dan darimana asalnya. Umumnya tersebar dari orang-orang dan biasanya mengalami perubahan nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Apabila diperhatikan dengan baik, maka kegiatan ini tidak lain merupakan kegiatan yang diatur oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pewarisan dari generasi terdahulu yang dilakukan manusia (siswa-siswa) dengan tujuan mendapat kegembiraan.

Peran Permainan Tradisional

Untuk sebuah pendidikan yang bisa mencapai tujuan, maka peran penting dalam permainan tradisional, harus kita kembangkan demi ketahanan budaya bangsa, karena kita menyadari bahwa kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur untuk negara Indonesia ini, untuk diketahui dan dihayati tata cara kehidupannya sejak dahulu. Belajar dengan menerapkan permainan zaman dahulu ini harus memperoleh perhatian tersendiri serta memperoleh prioritas yang utama untuk dilindungi, dibina, dikembangkan, diberdayakan dan selanjutnya diwariskan. Belajar dengan menerapkan sebuah permainan memang baik dilakukan agar kegiatan ini dapat memiliki ketahanan dalam menghadapi unsur budaya lain di luar kebudayaannya.

Berbagai permainan yang bisa dimasukkan dalam pendidikan

1.      Permainan Tradisional Congklak

Ini jenis permainan tradisonal yang masih banyak dimainkan. Dalam hal ini, perlengkapan atau peralatan yang dipakai dalam melakukan permainan “dakon” ini masih banyak dijual di pasaran. Konon Ibu Bapak guru, ini merupakan salah satu permainan tertua di dunia. Permainannya, bukan alatnya. Apabila benar kita harus berbangga telah mewarisi salah satu permainan yang legendaris. Cara bermainnya merupakan dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu-persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan.

Dalam permainan ini adalah apabila biji yang terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka biji-bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Apabila biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Akhir dari permainan ini adalah jika sebuah biji yang terdapat pada lubang yang kecil telah habis dikumpulkan.

Pemenangnya merupakan yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian kelubang induk miliknya. Permainan ini melatih strategi, ketelitian, dan kesabaran. Kemudian, pelajaran apa yang cocok diajarkan memakai media congklak? Ada banyak sebenarnya. Terutama pada bidang studi matematika. Keseluruhan pelajaran dari pada ranah “bilangan” bisa diajarkan memakai media ini.

2.      Permainan Tradisional Engklek

Walupun namanya tidak sama, cara memainkannya sama, yakni pemain meloncati bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan menggunakan satu kaki. Pada ujung petak dibuat gundukan seperti gunung. Dalam permainan ini, seorang pemain diharuskan meloncat dengan menggunakan satu kaki dari petak satu ke petak berikutnya. Ketika melakukan loncatan, pemain tersebut memegang gaco untuk dilemparkan ke masing-masing petak dan kemudian pemain melakukan lompatan ke dalam petak-petak tersebut. Jika sudah melakukan lompatan ke satu petak pemain mengambil gaco tersebut kemudian dilemparkan lagi ke petak selanjutnya. Gaco yang dilempar tidak boleh melebihi batas petak, apabila melewati maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain lainnya.

Seorang pemain yang sudah menyelesaikan keseluruhan engklek terlebih dulu dinyatakan sebagai pemenang. Permainan ini dapat digunakan dalam semua materi ajar! Kenapa? Sebab para pemain memakainya sebagai salah satu alat bantu mengingat dan menghafal konsep. Untuk melakukannya, maka pemain dapat meletakkan kartu soal pada masing-masing petak, lalu setiap siswa yang masuk ke petak harus menjawab soal yang ada pada petak itu. Jadi, apabila dalam permainan engklek aslinya pemain yang melempar gaco keluar batas petak dinyatakan gugur, dalam pembelajaran ini pemain yang salah menjawab pertanyaanlah yang gugur.

3.      Permainan Tradisional Petak Umpet

Rasanya sudah tidak harus dituliskan aturan dan tata cara permainan yang satu ini. Sudah sangat familiar. Permainan murah meriah yang bisa menumbuhkan rasa kesetiakawanan. Modalnya hanya satu: punya teman. Akan tetapi, jika permainan ini diterapkan ke dalam pembelajaran, agak sulit memang meraba materi apa yang sekiranya pas. Maksudnya adalah diperlukan suatu kecermatan dan ketelitian mencari poin-poin penting dari permainan ini. Diantara beberapa poin itu merupakan:

  • Di dalam permainan ini ada hitungannya, yakni dilakukan oleh siswa yang bertindak sebagai “Kucing”. Jadi, dalam hal ini seorang pendidik dapat meminta peserta didiknya untuk menghitung menggunakan bahasa asing yang dipelajari di kelasnya (untuk kelas bawah).
  • Si “Kucing” harus menyebutkan nama saat menemukan teman yang bersembunyi. Satu demi satu sampai semuanya ketemu. Tentu ini mudah karena ia sudah hafal dengan nama teman-temannya. Maka dari itu, seorang pendidik dapat merubah nama siswa-siswa yang bersembunyi dengan istilah-istilah dalam materi. Apabila sedang mempelajari organ pernafasan, guru bisa mengganti nama siswa dengan trakhea, bronkus, alveolus, dan sebagainya. Atau apabila mempelajari materi zaman pergerakan nasional, guru bisa menggantinya dengan nama tokoh-tokoh pergerakan nasional.

4.      Permainan Tradisional Gobak Sodor

Supaya bisa melakukan permainan ini, maka pemain harus ada dua kelompok, satu kelompok sebagai tim laku dan satu kelompok sebagai tim jaga. Maksud dari bermain ini merupakan kelompok jaga yang berdiri tepat di garis depan petak harus menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih hasil menang maka semua kelompok harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Pembelajaran PKn materi kerjasama sangat tepat apabila dilakukan dengan permainan ini. Para peserta didik bisa melakukan langsung bagaimana contoh bekerjasama yang benar. Seorang guru harus memberi waktu kepada peserta didiknya untuk melakukan berdiskusi menentukan formasi timnya, menunjuk ketua kelompok, dan mengatur strateginya. Biasanya ketua kelompok akan bertindak sebagai selodor. Melalui hal ini, maka para peerta didik dapat terlatih bekerja sama dalam memecahkan masalah dan bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya.

Langkah Mudah Bagi Guru PJOK Menemukan Bakat Siswa

Olah raga adalah bagian penting dari hidup, untuk itu pendidikan olah raga harus selalu inovatif. Pada prinsipnya, sport teacher (guru olahraga) harus bisa berperan sebagai pelatih, teman, orangtua pengganti, konselor, bahkan psikolog bagi anak didik. Jika seorang guru olahraga bisa berperan seperti itu , siswa berbakat akan bisa lebih fokus mengembangkan potensi dan prestasi.

Siswa juga akan percaya penuh kepada guru olahraganya. Yakni kemampuan guru menghayati perasaan atau keadaan anak didiknya. Ada beberapa langkah mudah bagi guru olahraga untuk melatih dan menggerakkan anak-anak didik:

  • Guru harus mengetahui healt track record (riwayat kesehatan ) anak melalui blanko yang di isi orangtua.Tujuannya anak didik yang akan kita bina aman.
  • Kelompokkan setiap anak didik berdasar umur dan jenis kelamin.Kemudian dilanjutkan pengecekan anatomi tubuh disertai tes fisik (antropometrik ) yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, tinggi duduk, dan lebar depannya.Jangan lupa, cantumkan pula daftar nilai akademik sekolahnya (peringkat di kelas). Sebab intelegensi merupakan salah satu modal untuk menjadi seorang atlet yang andal, selain bakat dan kemauan.
  • Kita perlu membuat kolom masing-masing cabor (cabang olahraga) yang di dalamnya terdapat acuan tentang usia untuk mengawali latihan pada setiap cabor. Diharapkan, daftar tersebut benar-benar kredibel serta valid. Kemudian, masukkan hasil pengelompokan pada langkah kedua ke dalam kolom masing-masing cabor (cabang olahraga ) bergantung guru masing-masing.
  • Lakukan pengukuran kemampuan fisik setiap anak didik yang terjaring pada langkah ketiga.Tes dasarnya kita sesuaikan masing-masing cabor. Begitu pula dengan teknik-teknik dasar yang digunakan, ukurannya harus kredidel agar bisa diperoleh hasil yang valid.Setiap cabor memiliki jenis tes khusus untuk memperkirakan kecakapan atau ketrampilan siswa.
  • Hasil uji bakat kemampuan fisik dan nonfisik anak didik kita laporkan kepada kepala sekolah dan orang tua (wali)siswa.Keterlibatan pimpinan sekolah dan support orang tua sangat penting dalam peningkatan prestasi anak didik.
  • Lakukan kerjasama dengan pengurus cabor di daerah untuk mendapatkan pembinaan anak didik yang lebih terarah.Atau kerjasama dengan perkumpulan olahraga di daerah masing-masing supaya pembinaan yang kita rintis di sekolah tidak sia-sia.
  • Guru olahraga mengaplikasikan seluruh langkah tersebut. Contohnya apabila ada murid yang berpotensi di cabor tertentu, namun sarana dan prasarana di sekolah kurang mendukung, guru bisa mengarahkan (menitipkan) ke sport club agar mendapatkan porsi latihan yang memadai dan berkesinambungan.

Yang jelas, jika guru olahraga menyimpang dari prinsip-prinsip pelatihan dalam membina anak didik, Hampir pasti guru akan sulit meningkatkan prestasi olahraga anak didik. Satu lagi yang juga patut menjadi catatan upaya pembinaan siswa didik potensial adalah dukungan anggaran. Memang peribahasa jawa mengatakan, jer basuki mawa bea ikut menjadi factor keberhasilan pola pembinaan yang diharapkan.

Paradigma lama pembinaan olahraga harus kita tinggalkan.Bukan zamannya lagi menggunakan trik-trik kotor, menghalalkan segala cara untuk menang atau memalsukan data siswa untuk mencapai keberhasilan anak didik. Cara-cara itulah yang dapat menghancurkan jiwa keolahragaan bibit-bibit atlet kita. Guru olahraga pantang mengikutsertakan anak didiknya pada suatu lomba yang hanya untuk berpartisipasi.Kita harus memacu siswa untuk selalu meningkatkan prestasi yang semakin baik.

Akhirnya, sebagai pendidik dan Pembina, guru olahraga harus memegang prinsip-prinsip dasar pembinaan olahraga yang kompetitif, selektif, berbobot, berbudi, berakal, beradab dan tentu saja menjunjung sportivitas dalam menggali potensi serta prestasi siswa. Dengan landasan itu, bukan tidak mungkin kelak kita bisa melahirkan bibit-bibit olahragawan yang andal serta berbudi pekerti.