Peranan Penting Permainan Tradisional Dalam Pendidikan

Tercapainya tujuan untuk sebuah pembelajaran bukan cuma sekedar ditentukan oleh tingginya pendidikan seorang pendidik. Dengan adanya suatu kelengkapan mengenai sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang berhasilnya pembelajaran. Dengan fakta kurangnya penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan yang ada di lingkungan sekitar. Dalam hal ini, sebuah permainan tradisional daerah juga mempunyai peran besar untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran. Perlu dipahami bersama bahwa pembelajaran di Sekolah diharuskan bukan cuma sekedar bersifat teoritik tetapi juga dapat mengenalkan media pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisonal.

Sebab dalam permaianan tradisional mempunyai nilai nilai pengetahuan yang seharusnya dilestarikan oleh guru, walaupun pada kenyataannya permainan tradisional sedikit demi sedikit ditinggalkan. Dalam dunia pendidikan, permainan tradisional merupakan salah satu ciri suatu bangsa, dan hasil suatu peradaban. Negara mana yang tidak senang pada permainan budaya. Maka dari itu, menggali, melestarikan dan mengembangkan permainan tradisional merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Permainan tradisional ini bukan cuma skedar jadi ciri suatu bangsa, permaian tradisional merupakan salah satu bagian terbesar dalam suatu kerangka yang lebih luas yaitu kebudayaan.

Tidak dpat dipungkiri lagi jika sebuah permainan tradisional tersebut sebenarnya sangat baik untuk melatih fisik dan mental anak. Para siswa diajari pembelajaran mengenai kreatifitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan, dan keluasan wawasannya melalui permainan tradisional. Tetapi harus dipahami jika dengan zaman yang semakin maju saat ini, permainan yang bermanfaat bagi siswa ini mulai ditinggalkan bahkan dilupakan. Para peserta didik sudah terburu oleh kecanggihan televisi dan video game yang ternyata banyak memberi dampak negatif bagi anak-anak, baik dari segi kesehatan, psikologis maupun penurunan konsentrasi dan semangat belajar.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya aktivitas bermain zaman dahulu itu menyimpan sebuah keunikan, kesenian dan manfaat yang lebih besar seperti kerja sama tim, olahraga, terkadang juga membantu meningkatkan daya otak. Hal ini memang sangat berbeda dengan permainan siswa zaman sekarang yang hanya duduk diam memainkan permainan dalam layar monitor dan sebagainya. Dengan semakin berkembang pesatnya arus globalisasi di Negara Indonesia yang membawa pola kehidupan dan hiburan baru, mau tidak mau, memberikan dampak tertentu terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat.

Pentingnya Mengenal Permainan Tradisional

Harus dipahami bersama bahwa dengan mengetahui sebuah permainan tradisional maka akan mengantarkan mereka pada permainan yang bermanfaat dalam kegiatan belajar untuk meraih prestasi di masa yang akan datang. Jika para siswa tidak mengenalnya di masa muda, maka akan sulit bagi para peerta didik untuk menerima hal yang sama yang dahulu mereka mainkan bahkan yang pernah dimainkan pula oleh ayah, ibu, dan kakek-neneknya. Mengenai proses pelaksanaan dalam pembelajaran dengan memanfaatkan permainan tradisional dapat dilakukan dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar. Contohnya adalah dalam permainan gasingan yang terbuat dari kayu, layangan, yoyok, parasut dan-lain-lain. Buat para peerta didik permainan dapat dijadikan kegiatan yang serius, tetapi mengasyikan.

Jenis-jenis Permainan Tradisional untuk Pembelajaran

Hingga saat ini Negara kita tidak sedikit jenis-jenis permainan tradisional yang bisa diterapkan dalam pembelajaran, hampir di seluruh daerah-daerah telah mengenalnya bahkan pernah mengalami masa-masa bermain permainan tradisional ketika kecil. Aktivitas ini memang perlu dikembangkan lagi karena mengandung banyak unsur manfaat dan persiapan bagi siswa dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Berikut berbagai contoh permainan tradisional akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :

1.      Permainan Tradisional Galasin

Permainan tradisional ini juga bisa disebut permainan gobak sodor yang merupakan sejenis permainan daerah asli dari Indonesia. Aktivitas ini merupakan salah satu aktivitas bermain tipe kelompok yang anggotanya terdiri dari dua kelompok, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 sampai 5 orang. Dalam melakukan permainan ini umumnya dilakukan di sebuah lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segi empat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Untuk pembatas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Pemain yang memperoleh giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota kelompok yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal.

2.      Permainan Tradisional Congklak

Permainan tradisional ini merupakan salah satu jenis permainan yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh indonesia. Umumnya untuk melakukan permainan ini, bekas rumah dari hewan kerang dipakai sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.

3.      Permainan Tradisional Petak Umpet

Perlu diketahui jika untuk melakukan permainan ini bisa dilakukan dengan dua orang saja, Namun jika semakin banyak yang bermain maka akan menjadi semakin seru. Untuk melakukan permainan ini bisa dikatakan lumayan gampang, permainan ini dimulai dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi “kucing” (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Pemain yang menjadi kucing ini harus melakukan satu hal yaitu menutup mata dan menghitung sampai 10.

Hal ini biasanya dilakukan oleh pemain adalah berdiri menghadap ke tembok, pohon atau apa saja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi (tempat jaga ini mempunyai sebutan yang berbeda di setiap daerah. Apabila hitungan yang disepakati sudah selesai, contohnya jika wilayahnya terbuka, hitungan biasanya ditambah lagi dan setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si “kucing” beraksi mencari teman-temannya tersebut.

4.      Permainan Tradisional Gasing

Untuk permainan tradisional ini merupakan sebuah permainan yang bisa berputar pada poros dan berkeseimbangan pada suatu titik. Permainan ini merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Permainan tradisional ini tidak hanya dimainkan oleh para siswa dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib. Umumnya permainan gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Untuk talinya gasing biasanya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Mengenai panjang dari sebuah tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

5.      Permainan Tradisional Kelereng

Sebuah permainan tradisional ini merupakan salah satu permainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Mengenai ukuran dari kelereng sangat bermacam-macam. Biasanya adalah 0,5 inci. Permainan tradisional yang satu ini bisa digolongkan sebagai permainan anak, dan kadang dikoleksi, untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik.

6.      Permainan Tradisional Egrang

Perlu diketahi bahwa permainan tradisional ini merupakan galah atau tongkat yang digunakan seseorang agar bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah. Dalam melaksanakan aktivitas tradisional ini yaitu alatnya harus diberi panjatan sebagai tempat berdiri, atau tali pengikat untuk diikatkan ke kaki, untuk tujuan berjalan selama naik di atas ketinggian normal.

Pentingnya Permainan Tradisional Dalam Pembelajaran Siswa

Perlu dipahami bersama jika aktivitas bermain pada zaman dahulu merupakan suatu sebuah lambang dari pengetahuan yang berkelanjutan dan mempunyai beranekaragam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan siswa tetap merupakan permainan siswa. Melalui hal itu pembelajaran tetap menyenangkan dan menggembirakan siswa karena tujuannya sebagai media permainan. Dalam hal ini, suatu permainan yang bisa menumbuhkan dan mengembangkan aspek-aspek psikologis siswa dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa.

Belajar dengan sebuah permainan ini dipakai untuk mencakup jangkauan kegiatan dan prilaku yang luas serta mungkin bertindak sebagai ragam tujuan yang sesuai dengan usia siswa. Oleh karena itu, bahwa permainan tradisional disini merupakan permainan siswa-siswa dari bahan sederhana sesuai aspek budaya dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan ini sangat populer sebagai permainan rakyat yang ramah lingkungan yang merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial. Dengan demikian bermain suatu kebutuhan bagi siswa.

Kegiatan belajar dengan sebuah permainan yang tradisional ini merupakan salah satu wujud yang berupa permainan siswa-siswa, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun serta banyak mempunyai variasi. Sifat atau cirri dari permainan tradisional siswa sudah tua usianya, tidak diketahui asal-usulnya, siapa penciptanya dan darimana asalnya. Umumnya tersebar dari orang-orang dan biasanya mengalami perubahan nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Apabila diperhatikan dengan baik, maka kegiatan ini tidak lain merupakan kegiatan yang diatur oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pewarisan dari generasi terdahulu yang dilakukan manusia (siswa-siswa) dengan tujuan mendapat kegembiraan.

Peran Permainan Tradisional

Untuk sebuah pendidikan yang bisa mencapai tujuan, maka peran penting dalam permainan tradisional, harus kita kembangkan demi ketahanan budaya bangsa, karena kita menyadari bahwa kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur untuk negara Indonesia ini, untuk diketahui dan dihayati tata cara kehidupannya sejak dahulu. Belajar dengan menerapkan permainan zaman dahulu ini harus memperoleh perhatian tersendiri serta memperoleh prioritas yang utama untuk dilindungi, dibina, dikembangkan, diberdayakan dan selanjutnya diwariskan. Belajar dengan menerapkan sebuah permainan memang baik dilakukan agar kegiatan ini dapat memiliki ketahanan dalam menghadapi unsur budaya lain di luar kebudayaannya.

Berbagai permainan yang bisa dimasukkan dalam pendidikan

1.      Permainan Tradisional Congklak

Ini jenis permainan tradisonal yang masih banyak dimainkan. Dalam hal ini, perlengkapan atau peralatan yang dipakai dalam melakukan permainan “dakon” ini masih banyak dijual di pasaran. Konon Ibu Bapak guru, ini merupakan salah satu permainan tertua di dunia. Permainannya, bukan alatnya. Apabila benar kita harus berbangga telah mewarisi salah satu permainan yang legendaris. Cara bermainnya merupakan dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu-persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan.

Dalam permainan ini adalah apabila biji yang terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka biji-bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Apabila biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Akhir dari permainan ini adalah jika sebuah biji yang terdapat pada lubang yang kecil telah habis dikumpulkan.

Pemenangnya merupakan yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian kelubang induk miliknya. Permainan ini melatih strategi, ketelitian, dan kesabaran. Kemudian, pelajaran apa yang cocok diajarkan memakai media congklak? Ada banyak sebenarnya. Terutama pada bidang studi matematika. Keseluruhan pelajaran dari pada ranah “bilangan” bisa diajarkan memakai media ini.

2.      Permainan Tradisional Engklek

Walupun namanya tidak sama, cara memainkannya sama, yakni pemain meloncati bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan menggunakan satu kaki. Pada ujung petak dibuat gundukan seperti gunung. Dalam permainan ini, seorang pemain diharuskan meloncat dengan menggunakan satu kaki dari petak satu ke petak berikutnya. Ketika melakukan loncatan, pemain tersebut memegang gaco untuk dilemparkan ke masing-masing petak dan kemudian pemain melakukan lompatan ke dalam petak-petak tersebut. Jika sudah melakukan lompatan ke satu petak pemain mengambil gaco tersebut kemudian dilemparkan lagi ke petak selanjutnya. Gaco yang dilempar tidak boleh melebihi batas petak, apabila melewati maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain lainnya.

Seorang pemain yang sudah menyelesaikan keseluruhan engklek terlebih dulu dinyatakan sebagai pemenang. Permainan ini dapat digunakan dalam semua materi ajar! Kenapa? Sebab para pemain memakainya sebagai salah satu alat bantu mengingat dan menghafal konsep. Untuk melakukannya, maka pemain dapat meletakkan kartu soal pada masing-masing petak, lalu setiap siswa yang masuk ke petak harus menjawab soal yang ada pada petak itu. Jadi, apabila dalam permainan engklek aslinya pemain yang melempar gaco keluar batas petak dinyatakan gugur, dalam pembelajaran ini pemain yang salah menjawab pertanyaanlah yang gugur.

3.      Permainan Tradisional Petak Umpet

Rasanya sudah tidak harus dituliskan aturan dan tata cara permainan yang satu ini. Sudah sangat familiar. Permainan murah meriah yang bisa menumbuhkan rasa kesetiakawanan. Modalnya hanya satu: punya teman. Akan tetapi, jika permainan ini diterapkan ke dalam pembelajaran, agak sulit memang meraba materi apa yang sekiranya pas. Maksudnya adalah diperlukan suatu kecermatan dan ketelitian mencari poin-poin penting dari permainan ini. Diantara beberapa poin itu merupakan:

  • Di dalam permainan ini ada hitungannya, yakni dilakukan oleh siswa yang bertindak sebagai “Kucing”. Jadi, dalam hal ini seorang pendidik dapat meminta peserta didiknya untuk menghitung menggunakan bahasa asing yang dipelajari di kelasnya (untuk kelas bawah).
  • Si “Kucing” harus menyebutkan nama saat menemukan teman yang bersembunyi. Satu demi satu sampai semuanya ketemu. Tentu ini mudah karena ia sudah hafal dengan nama teman-temannya. Maka dari itu, seorang pendidik dapat merubah nama siswa-siswa yang bersembunyi dengan istilah-istilah dalam materi. Apabila sedang mempelajari organ pernafasan, guru bisa mengganti nama siswa dengan trakhea, bronkus, alveolus, dan sebagainya. Atau apabila mempelajari materi zaman pergerakan nasional, guru bisa menggantinya dengan nama tokoh-tokoh pergerakan nasional.

4.      Permainan Tradisional Gobak Sodor

Supaya bisa melakukan permainan ini, maka pemain harus ada dua kelompok, satu kelompok sebagai tim laku dan satu kelompok sebagai tim jaga. Maksud dari bermain ini merupakan kelompok jaga yang berdiri tepat di garis depan petak harus menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih hasil menang maka semua kelompok harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Pembelajaran PKn materi kerjasama sangat tepat apabila dilakukan dengan permainan ini. Para peserta didik bisa melakukan langsung bagaimana contoh bekerjasama yang benar. Seorang guru harus memberi waktu kepada peserta didiknya untuk melakukan berdiskusi menentukan formasi timnya, menunjuk ketua kelompok, dan mengatur strateginya. Biasanya ketua kelompok akan bertindak sebagai selodor. Melalui hal ini, maka para peerta didik dapat terlatih bekerja sama dalam memecahkan masalah dan bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya.

Langkah Mudah Bagi Guru PJOK Menemukan Bakat Siswa

Olah raga adalah bagian penting dari hidup, untuk itu pendidikan olah raga harus selalu inovatif. Pada prinsipnya, sport teacher (guru olahraga) harus bisa berperan sebagai pelatih, teman, orangtua pengganti, konselor, bahkan psikolog bagi anak didik. Jika seorang guru olahraga bisa berperan seperti itu , siswa berbakat akan bisa lebih fokus mengembangkan potensi dan prestasi.

Siswa juga akan percaya penuh kepada guru olahraganya. Yakni kemampuan guru menghayati perasaan atau keadaan anak didiknya. Ada beberapa langkah mudah bagi guru olahraga untuk melatih dan menggerakkan anak-anak didik:

  • Guru harus mengetahui healt track record (riwayat kesehatan ) anak melalui blanko yang di isi orangtua.Tujuannya anak didik yang akan kita bina aman.
  • Kelompokkan setiap anak didik berdasar umur dan jenis kelamin.Kemudian dilanjutkan pengecekan anatomi tubuh disertai tes fisik (antropometrik ) yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, tinggi duduk, dan lebar depannya.Jangan lupa, cantumkan pula daftar nilai akademik sekolahnya (peringkat di kelas). Sebab intelegensi merupakan salah satu modal untuk menjadi seorang atlet yang andal, selain bakat dan kemauan.
  • Kita perlu membuat kolom masing-masing cabor (cabang olahraga) yang di dalamnya terdapat acuan tentang usia untuk mengawali latihan pada setiap cabor. Diharapkan, daftar tersebut benar-benar kredibel serta valid. Kemudian, masukkan hasil pengelompokan pada langkah kedua ke dalam kolom masing-masing cabor (cabang olahraga ) bergantung guru masing-masing.
  • Lakukan pengukuran kemampuan fisik setiap anak didik yang terjaring pada langkah ketiga.Tes dasarnya kita sesuaikan masing-masing cabor. Begitu pula dengan teknik-teknik dasar yang digunakan, ukurannya harus kredidel agar bisa diperoleh hasil yang valid.Setiap cabor memiliki jenis tes khusus untuk memperkirakan kecakapan atau ketrampilan siswa.
  • Hasil uji bakat kemampuan fisik dan nonfisik anak didik kita laporkan kepada kepala sekolah dan orang tua (wali)siswa.Keterlibatan pimpinan sekolah dan support orang tua sangat penting dalam peningkatan prestasi anak didik.
  • Lakukan kerjasama dengan pengurus cabor di daerah untuk mendapatkan pembinaan anak didik yang lebih terarah.Atau kerjasama dengan perkumpulan olahraga di daerah masing-masing supaya pembinaan yang kita rintis di sekolah tidak sia-sia.
  • Guru olahraga mengaplikasikan seluruh langkah tersebut. Contohnya apabila ada murid yang berpotensi di cabor tertentu, namun sarana dan prasarana di sekolah kurang mendukung, guru bisa mengarahkan (menitipkan) ke sport club agar mendapatkan porsi latihan yang memadai dan berkesinambungan.

Yang jelas, jika guru olahraga menyimpang dari prinsip-prinsip pelatihan dalam membina anak didik, Hampir pasti guru akan sulit meningkatkan prestasi olahraga anak didik. Satu lagi yang juga patut menjadi catatan upaya pembinaan siswa didik potensial adalah dukungan anggaran. Memang peribahasa jawa mengatakan, jer basuki mawa bea ikut menjadi factor keberhasilan pola pembinaan yang diharapkan.

Paradigma lama pembinaan olahraga harus kita tinggalkan.Bukan zamannya lagi menggunakan trik-trik kotor, menghalalkan segala cara untuk menang atau memalsukan data siswa untuk mencapai keberhasilan anak didik. Cara-cara itulah yang dapat menghancurkan jiwa keolahragaan bibit-bibit atlet kita. Guru olahraga pantang mengikutsertakan anak didiknya pada suatu lomba yang hanya untuk berpartisipasi.Kita harus memacu siswa untuk selalu meningkatkan prestasi yang semakin baik.

Akhirnya, sebagai pendidik dan Pembina, guru olahraga harus memegang prinsip-prinsip dasar pembinaan olahraga yang kompetitif, selektif, berbobot, berbudi, berakal, beradab dan tentu saja menjunjung sportivitas dalam menggali potensi serta prestasi siswa. Dengan landasan itu, bukan tidak mungkin kelak kita bisa melahirkan bibit-bibit olahragawan yang andal serta berbudi pekerti.